Pengusaha Buka-bukaan Jatuh Bangun Bisnis Hotel hingga Kamar Isolasi

Berita Online

Pengusaha Buka-bukaan Jatuh Bangun Bisnis Hotel hingga Kamar Isolasi

7895522.comPandemi virus Corona (COVID-19) menghambat pergerakan manusia, baik dalam aktivitas perekonomian, aktivitas pengisi waktu luang seperti mengunjungi keluarga, berlibur, dan sebagainya. Padahal, pergerakan itu adalah sumber pendapatan bagi pengusaha hotel dan restoran.

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengungkapkan, para pengusaha telah berupaya bangkit, terutama sejak PSBB transisi pada Juni lalu, juga pembukaan kembali wisata Bali pada 31 Juli.

Berbagai kawasan wisata seperti Bandung, Puncak Bogor, dan sebagainya juga mulai ramai. Namun, kondisi itu kembali parah ketika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan PSBB total kembali yang berlaku sejak Senin, (14/8) lalu.

“Kalau secara keseluruhan, yang di luar Jakarta itu kondisinya berat, terpuruk. Karena otomatis kalau Jakarta mengumumkan PSBB itu impact-nya ke daerah,” ungkap Hariyadi dalam wawancara khusus bersama, Kamis (17/9/2020).

Menurut Hariyadi, para pengusaha hotel dan restoran mulai ‘mengencangkan ikat pinggang’ ketika PSBB Jakarta diperketat lagi.

Baca Juga : PT KCI: Hindari Pemakaian Masker Buff dan Scuba di KRL

“Ketika pariwisata mulai ramai lagi itu sangat membantu, lumayan. Tapi memang mereka ramainya hanya weekend. Jadi kalau weekdays masih berat. Tapi paling tidak lumayan lah ada pendapatan masuk. Nah sekarang ya mulai persiapan lagi. Tapi kalau menutupi kerugian kemarin itu jauh, masih belum. Kalau kita bicara menutup kerugian sudah nggak mungkin, 2020 ini sudah pasti loss,” urainya.

Berikut kutipan wawancara lengkap dengan Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani:

Bagaimana kondisi terkini sektor pariwisata, khususnya di industri perhotelan dan restoran?

Jadi kalau kita bicara pariwisata itu sekarang kondisinya memang sudah melemah lagi. Kemarin kita sempat mau pemulihan, dan terutama kalau pariwisata yang terdampak sekali itu Bali. Nah Bali itu posisinya kemarin sesudah PSBB transisi Jakarta sudah sempat naik ke 2,5%, tadinya itu kan di bawah 2%. Sekarang otomatis Bali pasti akan terpuruk lagi. Kalau Jakarta kondisinya memang masih menurun, apalagi Senin diumumkan PSBB lagi jadi drop.

Tapi saya melihat hotel bintang 2 dan 3 itu akan terbantu, karena pasien yang isolasi mandiri itu, yang self-quarantine itu akan bisa di hotel-hotel tersebut. Tapi saya belum tahu persis yang akan diizinkan oleh pemerintah itu berapa. Tetapi sampai hari kemarin kami sudah menyiapkan 20 hotel, kira-kira 2.000 kamar. Ini kemungkinan bisa bertambah lagi. Tapi kalau kita mobilisasi dengan cepat itu saya perkirakan 4.000 kamar bisa kita siapkan. Itu hanya untuk hotel bintang 2 dan 3, dan itu di luar yang pasiennya bayar sendiri. Ini kan yang dibayarkan pemerintah.

Nah kalau secara keseluruhan, yang di luar Jakarta itu kondisinya berat, terpuruk. Karena otomatis kalau Jakarta mengumumkan PSBB itu impact-nya ke daerah.

Jika hotel dimanfaatkan sebagai fasilitas isolasi mandiri, bagaimana persiapannya? Apakah tidak ada kekhawatiran penyebaran COVID-19 di hotel?

Sebetulnya kalau awal-awal iya ngeri. Tapi saat ini sudah pengalaman semua. Alhamdulillah sampai hari ini kita belum ada yang terpapar. Karena kan sudah diajarkan cara-caranya, insyaallah sih aman. Tapi memang kebutuhan dari masyarakat kemungkinan akan naik, ini terkait isolasi mandiri, karena kan naik kasusnya ini luar biasa. Tapi itu ada pelatihan khusus juga.

Sudah berapa total kerugian sampai berapa hingga saat ini?

Kalau sampai Juni potential loss hotel sampai Rp 40 triliun, sedangkan untuk restoran sekitar Rp 45 triliun. Update sampai September kita belum hitung lagi, karena itu data sampai PSBB kemarin.

Sudah berapa hotel dan restoran yang tutup akibat pandemi?

PSBB pertama sudah 2.000 hotel yang tutup, kalau hotel mencapai 8.000, itu yang lapor ke PHRI. Itu di seluruh Indonesia. Kalau berdasarkan laporan, itu kebanyakan di Jawa Barat. Tapi kenyataannya, Bali yang lebih banyak, tapi nggak semuanya melapor. Tapi kalau dari jumlahnya Bali yang paling banyak.

Berapa jumlah pegawai yang sudah dirumahkan atau di-PHK selama pandemi?

Kalau hitungan kita per Juni, potensial yang dirumahkan, dicutikan di luar tanggungan perusahaan, di-PHK itu kira-kira 500.000 orang, dari sektor hotel. Kalau restoran per Juni itu kira-kira 1 juta orang. Nah mulai Juni itu kan sudah mulai pemulihan. Tapi sekarang begini lagi, ya bisa drop lagi.

Dari pegawai yang dirumahkan, adakah yang dipekerjakan kembali? Berapa?

Ada, ada, sempat di-hire lagi. Tapi ini kembali lagi, nggak tahu nanti ke depan seperti apa. Apakah akan berdampak lebih buruk lagi. Seperti yang tadi saya bilang, kalau sektor hotel yang mungkin nanti agak tertolong adalah yang akan dipakai isolasi mandiri oleh pemerintah, karena itu kan dibayar pemerintah. Dibayar itu saya pikir kondisinya akan jelek, hotel-hotel yang nggak dipakai isolasi mandiri oleh pemerintah.

Wisata bali dibuka lagi sejak 31 Juli, beberapa destinasi juga mulai dikunjungi masyarakat seperti Bandung, Puncak Bogor, bagaimana hasilnya? Apakah cukup membantu bagi hotel dan restoran?

Sekarang ini sepertinya di Bali sudah naik lagi kasus Coronanya, tinggi lagi. Nah kita masih menunggu tindakan Pemprov Bali nanti akan seperti apa. Tapi, Jakarta itu barometer. Kalau Jakarta bilang PSBB itu kemungkinan yang lain akan mengikuti. Tapi PSBB yang kita perhatikan menjadi keputusan pemerintah untuk memberlakukan PSBB dari kapasitas rumah sakit (RS)-nya. Nah kalau kapasitas RS penuh itu sudah pasti PSBB. Nah sekarang tinggal kita lihat saja kelihatannya bagaimana, kalau naik, penuh, itu sudah kemungkinan besar PSBB.

Tapi ketika pariwisata mulai ramai lagi itu sangat membantu, lumayan. Tapi memang mereka ramainya hanya weekend. Jadi kalau weekdays masih berat. Tapi paling tidak lumayan lah ada pendapatan masuk. Nah sekarang ya mulai persiapan lagi. Tapi kalau menutupi kerugian kemarin itu jauh, masih belum. Kalau kita bicara menutup kerugian sudah nggak mungkin, 2020 ini sudah pasti loss.

Selama masa transisi restoran diizinkan untuk melayani makan di tempat lagi, apakah ada perubahan perilaku dari customer? Misalnya ada request unik, seperti pemilihan meja, atau mungkin lebih banyak ingin di outdoor mengingat penyebaran sangat rentan di ruangan AC?

Nggak ada secara spesifik seperti itu. Memang ada beberapa restoran yang menjadi favorit karena dia terbuka, tapi kalau dilihat apakah customer request tidak terlihat signifikan. Jadi tetap berjalan seperti biasa. Hanya memang tergantung segmentasi. Jadi kalau segmen pasar menengah atas itu jauh lebih baik mereka melakukan protokol kesehatannya. Nah kalau yang menengah bawah ini yang banyak nggak disiplinnya. Jadi baik pengelolanya, maupun juga tamunya. Jadi itu yang terus-menerus kami dari PHRI melakukan sosialisasi.

Dari kategori restoran, apakah ketika masa transisi masih ada yang jumlah pengunjungnya tak mengalami perbaikan?

Nggak juga sebetulnya. Kalau kita melihat itu praktis yang masih rendah itu yang di mal, karena mal kan mengikuti jumlah pengunjung. Tapi kalau yang di luar adalah yang memang tidak jadi favorit. Tapi kalau restoran yang favorit, itu sudah mulai ramai, sudah mulai bagus.

Adakah tantangan tersendiri bagi staf restoran/hotel ketika menemui customer tidak menerapkan protokol kesehatan?

Nggak-nggak sih. Sejauh yang kami pantau itu tidak. Masyarakat juga cukup bagus, kesadarannya cukup tinggi. Hanya ya itu yang agak longgar, agak bandel itu di kelas menengah ke bawah. Kadang-kadang mereka juga datang nggak pakai masker, yang seperti itu. Tapi secara keseluruhan saya lihat pengunjung restoran oke, mereka mau patuh protokol kesehatan.

Sebetulnya apa yang paling dibutuhkan oleh pengusaha hotel dan restoran dari pemerintah?

Yang dibutuhkan itu sebetulnya demand-nya balik, itu yang kami harapkan. Stimulus itu kan sifatnya sementara. Mau berapa pun, kalau masyarakatnya nggak bisa beraktivitas ya nggak pengaruh juga, pasti jauh lebih jelek lagi. Makanya kita berharap penanganan virusnya ini paling penting.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Online
Diberi Peringatan Keras oleh WHO Soal COVID-19, Ada Apa dengan Eropa?

Diberi Peringatan Keras oleh WHO Soal COVID-19, Ada Apa dengan Eropa? 7895522.com, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan peringatan keras terkait peningkatan kasus virus Corona COVID-19 di Eropa. Dikutip dari BBC, Direktur WHO di Eropa, Hans Kluge mengatakan dalam dua minggu terakhir terjadi peningkatan kasus baru Corona sebanyak dua kali lipat di lebih dari setengah negara …

Berita Online
PT KCI: Hindari Pemakaian Masker Buff dan Scuba di KRL

PT KCI: Hindari Pemakaian Masker Buff dan Scuba di KRL 7895522.com, PT KCI sedang menyosialisasikan kepada pengguna KRL untuk menghindari pemakaian masker buff dan masker scuba. Apa alasannya? “Kita di medsos baru sosialisasi efektivitas masker saja dan di stasiun kita lakukan sosialisasi itu saja,” kata VP Corporate Communications PT KCI, Anne Purba, saat dikonfirmasi, Selasa …

Berita Online
PAN Minta Anies Selalu Koordinasi ke Pemerintah Pusat soal Penanganan Corona

PAN Minta Anies Selalu Koordinasi ke Pemerintah Pusat soal Penanganan Corona 7895522.com, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta daerah untuk tidak terburu-buru melakukan pembatasan wilayah dan mengedepankan pembatasan skala lokal untuk menangani Corona. Partai Amanat Nasional (PAN) meminta pemerintah daerah berkoordinasi kepada pusat sebelum mengambil kebijakan terutama DKI Jakarta. “Apa yang disampaikan Presiden Jokowi itu …